Rabu, 19 Februari 2014

Analogi Kehidupan Remaja

Hai, ya seperti pribahasa “Sambil menyelam minum susu” *eh salah dialog!* Oke. Ulangi. “Sambil menyelam eh tenggelem!” *fix yeh makin ngaco!* yang bener itu “Sambil menyelam minum air” nulis blog ini adalah salah satu tugas sekolah, niatnya cuma buat akun blognya aja toh tugasnya cuma disuruh bikin blog aja kok tapi seperti pribahasa tadi aku mencoba menuangkan apa yang ada dipikiranku kedalam sebuah tulisan. Untuk ibu guru yang memberikan tugas ini  selamat membaca ibu guruku terhormat dan teman-temankuuuh *peluk*

          Aku mau berbagi analogi kehidupan ramaja yang sering aku temui, em… tentunya remaja yang usianya takjauh berbeda denganku jadi masih mengamatinya menurut aku yang usianya masih 16tahun ini. Okay let's start!
Dalam diam bukan berarti kita ga tau apa-apa kan? Justru dalam diam kita bisa memperhatikan dan menilai sesuatu. Seperti halnya yang terjadi disekitar kehidupanku entah itu keluarga, teman, sahabat, pacar, mantan, gebetan, sampai friendzone. Hayo ngakuuu siapa yang masih ada di zona itu? Tenang! Kamu ga sendirian kok, aku salah satu penghuni zona itu *eh curcol woy!* *inget ada ibu guru hehehe pisss buu maklum remaja;;)* Oke. Kembali ke topik.

Pertama.
          Tentang keluarga, beruntunglah bagi kalian yang masih mempunyai keluarga yang lengkap papa dan mama yang masih tinggal satu atap. Harmonis. Hangat. Masih bisa merasakan pelukan diantara papa dan mama kalian. Apa kalian masih ngeluh kebahagian yang sempurna itu karena mereka sibuk dengan pekerjaan mereka? Jangan pernah. Karena kalian paling beruntung dari anak-anak yang keadaan keluarganya berbalik berbeda dari kalian. Aku salah satu dengan keadaan keluarga yang sudah dihadapi dengan perceraian papa dan mama sejak aku bayi entah berapa umurku saat itu. Tapi aku bersyukur karena masih bisa berhubungan dengan baik antara papa dan mama seperti saudara, sering ke rumah walaupun mereka saling mempunyai keluarga “baru”. Percaya aja mereka sibuk itu untuk kamu juga kok. You are lucky. Dan buat papa mamanya yang udah ga ada kalian juga bahagia karena disetiap napas kalian itu ada doa-doa dari mereka disana, mereka selalu mengawasimu dan melihatmu bertumbuh dewasa. Ga semua bisa menerima kekurangan keluarganya sendiri, kadang beberapa diantara mereka berbalik arah untuk menjadi “Bandel” sebagian besar pasti cowo nih, apa ya aku juga ga tau pasti apa alesan mereka semua jadi seperti itu aku yakin mereka punya alesan yang kuat tapi apapun alesannya itu hanya memuaskan dirimu sendiri kan? Coba lihat orangtuamu sebentar saja, lihat kantung matanya yang terlihat sangat jelas, kerutan diujung mata dan dahi mereka, rambut yang berubah berwana putih secara berlahan, mereka menaruh harapanya terhadapmu. Apa kamu sadar itu? Ya memang kamu bertumbuh dewasa tapi kadang kamu lupa bahwa merekapun bertambah tua. Siapa lagi yang mereka harapkan kalau bukan kamu? Get realize guys, before you are late. *asek bahasamu nak macam sudah tua pula*. Your family is your home. if you lose your home, where would you go?

Kedua.
          Teman dan Sahabat ini jelas beda dong? Iya dong! Teman itu seperti figuran, yang kadang ada dan kadang engga. Dan sahabat? Justru berbeda “180 derajat heryanto” dari itu. Eh tunggu deh. Itu nama bokap gue woy! *sungkem ke bapak*
Apa kalian percaya adanya sahabat sejati? Dulu aku salah satu orang yang ga percaya adanya sahabat sejati. Tapi, setelah seiring waktu berlalu aku mikir bukan karena ga ada dan bikin ga percaya akan hal itu mereka ada kok tapi tergantung kita yang menilai seseorang itu, dan ga ada yang instan *lu kate mie goreng instan!* sahabat itu bukan cuma ngedengerin tapi ngertiin, bukan cuma ngasih solusi tapi ngebantu ngelakuin solusi itu, bukan yang saat kita jatuh dia pergi, bukan yang baik depan kita tapi ngomongin di belakang, bukan ada apanya dia mau berteman denganmu tapi apa adanya. So? You have someone like that? It’s your bestfriend.

Ketiga.
          Sekarang aku mau membahas tentang yang entah apa namanya tapi bisa bikin senyum-senyum sendiri, ketawa sendiri sama hp bahkan sampai bikin bantal kamu basah *itu sih molor sambil bikin pulau di bantal woy!* maksudnya sampai nangis sendirian dikamar. Tapi itulah alurnya, seneng terus nangis, abis nangis bakal ada kesenengan baru kok.
Pelangi itu datang disaat hujan sudah berhenti. Sama halnya seperti kita, kita yang menangisi dia yang membuat kita terluka sampai segininya dan air mata yang keluar dengan sendirinya kamupun berusaha tegar menghapus airmata itu dan tersenyum dalam kepalsuan. Sesering kamu meneteskan airmata apa dia peduli? Belum tentu. Buktinya, kamu sendiri yang mengusap airmatamu bukan dia kan? Sampai kapan sih kamu gini terus? Sampai dia peduli? Atau menunggu dia melihat airmatamu lalu mengusap airmatamu dengan jarinya? Sudahlah, hukum alam mengajari kita dimana abis hujan pasti ada pelangi. Hentikan hujan dimatamu, berhenti menangisi dia yang ga peduli sama kamu, tersenyumlah dan percaya setelah itu pelangimu akan datang.
Didalam hal ini ada beberapa fase dari ga kenal, kenalan, PDKT, pacaran, putus, setelah itu ada yang terjebak diruang nostalgila *kalau gini gue yakin rumah sakit jiwa penuh!* yap! Terjebak di ruang nostalgia, apalagi terjebak di ruangan ini bukan karena dia mantan pacar tapi hanya mantan pdktan. Fix. Itu paling pait. 

          Fase “Ga kenal menjadi Kenalan”
Di fase ini adalah awal dimana semua cerita tentang “dia” dimulai. Awalnya perasaan itu tumbuh tanpa direncananya ya perasaan yang ingin mengetahui tentang dia lebih jauh lagi. Dalam keramaian kamu diam diam memperhatikan dia, bukan! Bukan hanya memperhatikan wajahnya tapi memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki, memperhatikan matanya yang memikatmu, sampai akhirnya kamu terdiam kagum karena indahnya senyum itu di wajahnya entah saat itu senyumnya untukmu atau oranglain tapi hatimu tetap menganggap senyum itu untuk dirimu. Dengan usahamu ataupun dengan bantuan temanmu akhirnya kamupun dapat berkenalan dengannya, saat kamu mengetahui namanya saat itulah nama itu akan selalu kamu ingat disetiap detiknya.

          Fase “PDKT”
Di fase ini adalah fase yang sangat menyenangkan tapi akan menjadi bumerang saat ceritamu dan dia berakhir, apa lagi yang ceritanya cuma sampai di fase ini tapi ga ada yang salah dalam hal ini karena pdkt itu kan ga harus berujung ke pacaran namanya juga “pdkt” yaitu “pendekatan” kalau ngerasa ga cocok ya masa harus berlanjut? Bukannya itu malah jadi lebih buruk saat di fase pacaran nanti? Dan kamu harus sadar kalau “kenyamanan” pada seseorang itu langka. Saat di fase ini bersikap dan menjadilah dirimu sendiri dan liat apakah dia orang yang bisa menerimamu atau sebaliknya.

          Fase “Pacaran, lalu? Putus.”
Selamat bagi kalian yang bisa ke fase ini dari yang ga kenal, kenal, pdkt, lalu inilah puncaknya. Semua terasa sangat indah, hari yang dilaluipun terasa lebih cepat dan disetiap detiknya tercipta butiran kenangan bersamanya. Tatapan mata dan senyumannya yang pertama kali kamu lihat saat tak mengenal dia sekarang menjadi milikmu, ya hanya milikmu. Kalian dapat membuat oranglain mendambakan cerita cinta kalian yang indah itu. Sempurna. Tapi tak selamanya kamu berada di puncak fase ini, ada yng turun secara berlahan dan ada yang turun begitu cepatnya sehingga kamupun tak menyadarinya hanya terasa perih yang amat sangat terasa dan menyadari dia membuatmu terluka sampai segininya. Semuanya hilang. Semuanya hanya rasa mati. Kamu coba bangun dan menghapus air matamu sendiri, tersenyum tegar untuk menyembuhkan luka baru ini. Disaat kamu menyakininya ada satu hal yang perlu kamu sadari bahwa “yakin” itu belum tentu “pasti”.

          Fase “Terjebak di ruang nostalgia”
Di fase ini aku yakin banyak banget penghuninya, bukan! Bukan karena tak bisa dengan yang lain namun, karena belum mau. Semakin banyak waktu yang kamu lalui bersamanya semakin susah pula melupakannya. Butiran kenangan itu terlalu banyak dan membuat pandanganmu kedepan tertutupi. Tempat itu, jalanan yang dilalui bersama dalam canda merekapun menjadi saksi bisu kenangan itu. Waktu tak mungkin terulang kembali, diapun sudah tidak ada disampingmu seperti saat itu tetapi kenangan itu akan tetap menjadi satu satunya hal yang tak hilang dari kisah ini. Saat kamu terjebak di ruang nostalgia ini bukan karena dia mantan pacarmu melainkan mantan pdktan itu terasa lebih pait. Bagaimana mungkin itu bisa? Itu karena cintamu terhadapnya begitu besar, kamupun mencoba mematikan perasaan itu dan mencoba berpaling darinya tapi setelah kamu melakukannya kamu menyadari sebagimanapun oranglain membuat kamu tersenyum hatimu menolaknya. Kamu selalu ingin mengejarnya tapi dia bukan hanya menjauh bahkan dia membangun tembok diantara kalian yang membuatmu semakin sulit melihatnya. Kalau dia sudah begitu, kamu bisa apa? Hanya diam dalam tanya dan angin seolah membisikanmu untuk berbalik pergi, ya kamu mampu berbalik pergi tapi hatimu tetap berharap dia yang dulu pernah singgah itu untuk kembali karena kamu menyadari dia adalah pemeran utama hatimu.