Hai, ya seperti pribahasa “Sambil menyelam
minum susu” *eh salah dialog!* Oke. Ulangi. “Sambil menyelam eh tenggelem!”
*fix yeh makin ngaco!* yang bener itu “Sambil menyelam minum air” nulis blog
ini adalah salah satu tugas sekolah, niatnya cuma buat akun blognya aja toh
tugasnya cuma disuruh bikin blog aja kok tapi seperti pribahasa tadi aku
mencoba menuangkan apa yang ada dipikiranku kedalam sebuah tulisan. Untuk ibu
guru yang memberikan tugas ini selamat
membaca ibu guruku terhormat dan teman-temankuuuh *peluk*
Aku mau berbagi analogi kehidupan ramaja
yang sering aku temui, em… tentunya remaja yang usianya takjauh berbeda
denganku jadi masih mengamatinya menurut aku yang usianya masih 16tahun ini.
Okay let's start!
Dalam
diam bukan berarti kita ga tau apa-apa kan ? Justru dalam diam kita bisa memperhatikan
dan menilai sesuatu. Seperti halnya yang terjadi disekitar kehidupanku entah
itu keluarga, teman, sahabat, pacar, mantan, gebetan, sampai friendzone. Hayo
ngakuuu siapa yang masih ada di zona itu? Tenang! Kamu ga sendirian kok, aku
salah satu penghuni zona itu *eh curcol woy!* *inget ada ibu guru hehehe pisss
buu maklum remaja;;)* Oke. Kembali ke topik.
Pertama.
Tentang keluarga, beruntunglah bagi
kalian yang masih mempunyai keluarga yang lengkap papa dan mama yang masih
tinggal satu atap. Harmonis. Hangat. Masih bisa merasakan pelukan diantara papa
dan mama kalian. Apa kalian masih ngeluh kebahagian yang sempurna itu karena
mereka sibuk dengan pekerjaan mereka? Jangan pernah. Karena kalian paling beruntung
dari anak-anak yang keadaan keluarganya berbalik berbeda dari kalian. Aku salah
satu dengan keadaan keluarga yang sudah dihadapi dengan perceraian papa dan
mama sejak aku bayi entah berapa umurku saat itu. Tapi aku bersyukur karena
masih bisa berhubungan dengan baik antara papa dan mama seperti saudara, sering
ke rumah walaupun mereka saling mempunyai keluarga “baru”. Percaya aja mereka
sibuk itu untuk kamu juga kok. You are lucky. Dan buat papa mamanya yang udah
ga ada kalian juga bahagia karena disetiap napas kalian itu ada doa-doa dari
mereka disana, mereka selalu mengawasimu dan melihatmu bertumbuh dewasa. Ga
semua bisa menerima kekurangan keluarganya sendiri, kadang beberapa diantara
mereka berbalik arah untuk menjadi “Bandel” sebagian besar pasti cowo nih, apa
ya aku juga ga tau pasti apa alesan mereka semua jadi seperti itu aku yakin
mereka punya alesan yang kuat tapi apapun alesannya itu hanya memuaskan dirimu
sendiri kan ? Coba lihat orangtuamu sebentar saja,
lihat kantung matanya yang terlihat sangat jelas, kerutan diujung mata dan dahi
mereka, rambut yang berubah berwana putih secara berlahan, mereka menaruh
harapanya terhadapmu. Apa kamu sadar itu? Ya memang kamu bertumbuh dewasa tapi
kadang kamu lupa bahwa merekapun bertambah tua. Siapa lagi yang mereka harapkan
kalau bukan kamu? Get realize guys, before you are late. *asek bahasamu nak
macam sudah tua pula*. Your family is your home. if you lose your home, where
would you go?
Kedua.
Teman dan Sahabat ini jelas beda dong?
Iya dong! Teman itu seperti figuran, yang kadang ada dan kadang engga. Dan
sahabat? Justru berbeda “180 derajat heryanto” dari itu. Eh tunggu deh. Itu
nama bokap gue woy! *sungkem ke bapak*
Apa
kalian percaya adanya sahabat sejati? Dulu aku salah satu orang yang ga percaya
adanya sahabat sejati. Tapi, setelah seiring waktu berlalu aku mikir bukan
karena ga ada dan bikin ga percaya akan hal itu mereka ada kok tapi tergantung
kita yang menilai seseorang itu, dan ga ada yang instan *lu kate mie goreng
instan!* sahabat itu bukan cuma ngedengerin tapi ngertiin, bukan cuma ngasih
solusi tapi ngebantu ngelakuin solusi itu, bukan yang saat kita jatuh dia
pergi, bukan yang baik depan kita tapi ngomongin di belakang, bukan ada apanya
dia mau berteman denganmu tapi apa adanya. So? You have someone like that? It’s
your bestfriend.
Ketiga.
Sekarang aku mau membahas tentang yang
entah apa namanya tapi bisa bikin senyum-senyum sendiri, ketawa sendiri sama hp
bahkan sampai bikin bantal kamu basah *itu sih molor sambil bikin pulau di
bantal woy!* maksudnya sampai nangis sendirian dikamar. Tapi itulah alurnya,
seneng terus nangis, abis nangis bakal ada kesenengan baru kok.
Pelangi
itu datang disaat hujan sudah berhenti. Sama halnya seperti kita, kita yang
menangisi dia yang membuat kita terluka sampai segininya dan air mata yang
keluar dengan sendirinya kamupun berusaha tegar menghapus airmata itu dan
tersenyum dalam kepalsuan. Sesering kamu meneteskan airmata apa dia peduli?
Belum tentu. Buktinya, kamu sendiri yang mengusap airmatamu bukan dia kan ? Sampai kapan sih kamu gini terus? Sampai
dia peduli? Atau menunggu dia melihat airmatamu lalu mengusap airmatamu dengan
jarinya? Sudahlah, hukum alam mengajari kita dimana abis hujan pasti ada
pelangi. Hentikan hujan dimatamu, berhenti menangisi dia yang ga peduli sama
kamu, tersenyumlah dan percaya setelah itu pelangimu akan datang.
Didalam
hal ini ada beberapa fase dari ga kenal, kenalan, PDKT, pacaran, putus, setelah
itu ada yang terjebak diruang nostalgila *kalau gini gue yakin rumah sakit jiwa
penuh!* yap! Terjebak di ruang nostalgia, apalagi terjebak di ruangan ini bukan
karena dia mantan pacar tapi hanya mantan pdktan. Fix. Itu paling pait.
Fase “Ga kenal menjadi Kenalan”
Di
fase ini adalah awal dimana semua cerita tentang “dia” dimulai. Awalnya
perasaan itu tumbuh tanpa direncananya ya perasaan yang ingin mengetahui
tentang dia lebih jauh lagi. Dalam keramaian kamu diam diam memperhatikan dia,
bukan! Bukan hanya memperhatikan wajahnya tapi memperhatikan dari ujung rambut
sampai ujung kaki, memperhatikan matanya yang memikatmu, sampai akhirnya kamu
terdiam kagum karena indahnya senyum itu di wajahnya entah saat itu senyumnya
untukmu atau oranglain tapi hatimu tetap menganggap senyum itu untuk dirimu.
Dengan usahamu ataupun dengan bantuan temanmu akhirnya kamupun dapat berkenalan
dengannya, saat kamu mengetahui namanya saat itulah nama itu akan selalu kamu
ingat disetiap detiknya.
Fase “PDKT”
Di
fase ini adalah fase yang sangat menyenangkan tapi akan menjadi bumerang saat
ceritamu dan dia berakhir, apa lagi yang ceritanya cuma sampai di fase ini tapi
ga ada yang salah dalam hal ini karena pdkt itu kan ga harus berujung ke
pacaran namanya juga “pdkt” yaitu “pendekatan” kalau ngerasa ga cocok ya masa
harus berlanjut? Bukannya itu malah jadi lebih buruk saat di fase pacaran
nanti? Dan kamu harus sadar kalau “kenyamanan” pada seseorang itu langka. Saat
di fase ini bersikap dan menjadilah dirimu sendiri dan liat apakah dia orang
yang bisa menerimamu atau sebaliknya.
Fase “Pacaran, lalu? Putus.”
Selamat
bagi kalian yang bisa ke fase ini dari yang ga kenal, kenal, pdkt, lalu inilah
puncaknya. Semua terasa sangat indah, hari yang dilaluipun terasa lebih cepat
dan disetiap detiknya tercipta butiran kenangan bersamanya. Tatapan mata dan senyumannya yang pertama
kali kamu lihat saat tak mengenal dia sekarang menjadi milikmu, ya hanya
milikmu. Kalian dapat membuat oranglain mendambakan cerita cinta kalian yang
indah itu. Sempurna. Tapi tak selamanya kamu berada di puncak fase ini, ada yng
turun secara berlahan dan ada yang turun begitu cepatnya sehingga kamupun tak
menyadarinya hanya terasa perih yang amat sangat terasa dan menyadari dia
membuatmu terluka sampai segininya. Semuanya
hilang. Semuanya hanya rasa mati. Kamu coba bangun dan menghapus air matamu
sendiri, tersenyum tegar untuk menyembuhkan luka baru ini. Disaat kamu
menyakininya ada satu hal yang perlu kamu sadari bahwa “yakin” itu belum tentu
“pasti”.
Fase “Terjebak
di ruang nostalgia”
Di fase ini aku yakin banyak banget penghuninya, bukan! Bukan
karena tak bisa dengan yang lain namun, karena belum mau. Semakin banyak waktu
yang kamu lalui bersamanya semakin susah pula melupakannya. Butiran kenangan
itu terlalu banyak dan membuat pandanganmu kedepan tertutupi. Tempat itu,
jalanan yang dilalui bersama dalam canda merekapun menjadi saksi bisu kenangan
itu. Waktu tak mungkin terulang kembali, diapun sudah tidak ada disampingmu
seperti saat itu tetapi kenangan itu akan tetap menjadi satu satunya hal yang
tak hilang dari kisah ini. Saat kamu terjebak di ruang nostalgia ini bukan
karena dia mantan pacarmu melainkan mantan pdktan itu terasa lebih pait. Bagaimana
mungkin itu bisa? Itu karena cintamu terhadapnya begitu besar, kamupun mencoba
mematikan perasaan itu dan mencoba berpaling darinya tapi setelah kamu
melakukannya kamu menyadari sebagimanapun oranglain membuat kamu tersenyum
hatimu menolaknya. Kamu selalu ingin mengejarnya tapi dia bukan hanya menjauh
bahkan dia membangun tembok diantara kalian yang membuatmu semakin sulit
melihatnya. Kalau dia sudah begitu, kamu bisa apa? Hanya diam dalam tanya dan angin
seolah membisikanmu untuk berbalik pergi, ya kamu mampu berbalik pergi tapi
hatimu tetap berharap dia yang dulu pernah singgah itu untuk kembali karena
kamu menyadari dia adalah pemeran utama hatimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar